in

Gerhana matahari dijadikan ajang pembuktian teori Bumi datar

Minggu lalu, Amerika Serikat mendapat giliran untuk menikmati fenomena gerhana matahari total. Sebagian besar masyarakat di sana membawa apresiasi mendalam atas Tata Surya kita. Namun ada sekelompok orang justru memanfaatkan momen tersebut sebagai pembuktian kebohongan atas bentuk Bumi yang bulat.

Secara sains, gerhana matahari terjadi ketika posisi bulan terletak di antara Bumi dan Matahari, sehingga menutup sebagian atau seluruh cahaya matahari.

Walaupun Bulan lebih kecil, bayangan Bulan mampu melindungi sinar mentari sepenuhnya karena Bulan yang berjarak rata-rata jarak 384.400 kilometer dari Bumi lebih dekat dibandingkan Matahari yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer.


Sedangkan bagi pendukung teori Bumi datar, gerhana disebabkan oleh sesuatu (sesuatu yang mungkin ukurannya sama, tidak selalu bulan) yang lewat di depan matahari di bawah kubah raksasa.

Teori Bumi datar menunjukkan bahwa kita hidup di bawah kubah/gelembung raksasa yang menutupi seluruh Bumi yang datar. Matahari dan bulan melakukan perjalanan bolak-balik melintasi langit-langit kubah, inilah yang mereka yakini atas kegiatan Matahari terbenam dan terbit.

Jadi gerhana hanya berarti sesuatu–mungkin Bulan, mungkin planet lain–lewat di depan Matahari selama perjalanan reguler melintasi langit kubah. Teori sama juga berlaku bagi gerhana bulan.

Dalam beberapa kasus, pendukung teori Bumi datar percaya bahwa tepi dari piringan Bumi yang datar dikelilingi oleh dinding es.

Lalu apakah gerhana matahari benar membuktikan Bumi itu datar?
Ada dua poin utama yang menjadi kunci dasar pendukung teori Bumi datar membuktikan bahwa Bumi memang datar. Salah satunya adalah jalur gerhana, yang bergerak dari barat ke timur. Yang lainnya adalah ukuran bayangan bulan di Bumi.

Syahrini Ngamuk dan Tampar Soimah, Ternyata ini Penyebabnya

10 Kota yang Terancam Hilang dari Muka Bumi! Ada 1 di Indonesia!